Xianjiang-ku Sayang

 

Xinjiang-ku Sayang: Kepada Para Penerus Sa’ad bin Abi Waqqash

Persoalan umat Islam di Xinjiang (etnis Uighur, Hui, Kazakh, dll) bukan persoalan kemanusiaan biasa sebagaimana di Palestina, Syria, Yaman, Rohingya dan lainnya. Persoalannya jauh lebih pelik, karena adalah dampak dari rentetan berbagai macam persoalan lain sebelumnya.

Jangan cuma mengandalkan EMOSIONAL, tapi juga mesti RASIONAL.

Salah langkah kita DI SINI, apalagi hingga SOK TAHU dan SOK JAGO hingga ke sana, dampaknya bukan bagi aktivis atau pelaku pembawa misi saja. Melainkan BERDAMPAK pada umat Islam di sana. Bukan cuma etnis Uighur, melainkan juga etnis yg lain. Termasuk, orang-orang asing warga Muslim yg mungkin saja berada di sana. Continue reading “Xianjiang-ku Sayang”

Xinjiang-ku Sayang

Xinjiang-ku Sayang

Xinjiang-ku Sayang: Kepada Para Penerus Sa’ad bin Abi Waqqash

Persoalan umat Islam di Xinjiang (etnis Uighur, Hui, Kazakh, dll) bukan persoalan kemanusiaan biasa sebagaimana di Palestina, Syria, Yaman, Rohingya dan lainnya. Persoalannya jauh lebih pelik, karena adalah dampak dari rentetan berbagai macam persoalan lain sebelumnya.

Jangan cuma mengandalkan EMOSIONAL, tapi juga mesti RASIONAL.

Salah langkah kita DI SINI, apalagi hingga SOK TAHU dan SOK JAGO hingga ke sana, dampaknya bukan bagi aktivis atau pelaku pembawa misi saja. Melainkan BERDAMPAK pada umat Islam di sana. Bukan cuma etnis Uighur, melainkan juga etnis yg lain. Termasuk, orang-orang asing warga Muslim yg mungkin saja berada di sana.

Cukup sudah kejadian tanggal 12 Januari 2019 atas segala ketergesaan dan minim koordinasi dijadikan sebagai pelajaran bahwa membantu sesama umat Islam pun TIDAK HANYA sekadar GHIRAH. Perlu keselarasan antara OTAK dengan OTOT.

Ya, memang diamnya negara-negara berpenduduk Muslim terhadap persoalan di Xinjiang ini juga adalah persoalan baru. Tapi, MEMBEBEK dengan Barat juga adalah persoalan lebih besar yg baru. ‘Barat’ juga sedang MEMANFAATKAN ghirah umat Islam agar kemudian liar tak terarah. Kemudian, mereka yg mengarahkan demi kepentingan mereka dan menjadikan umat Islam sebagai pion dan martir konyolnya.

Seringkali saya sampaikan di berbagai kesempatan berbagi, juga ketika audiensi dengan beberapa lembaga negara, organisasi kemanusiaan milik pemerintah ataupun swasta, rekan jurnalis dan media dalam dan luar negeri hingga masyarakat luas bahwa:

“Persoalan umat Islam di Xinjiang ini, etnis apa pun, adalah bukan hanya ranah lembaga kemanusiaan saja. Apalagi hanya personal belaka. Perlu keterlibatan berbagai negara (seperti OKI, ASEAN, hingga PBB), aliansi jurnalis atau media internasional, hingga aliansi lembaga-lembaga keagamaan, adat, budaya dan kemanusiaan dalam level yg lebih tinggi: Internasional.

Membantu saudara Muslim etnis Uighur yg sudah tinggal di luar negeri China (Turki, Kazakhstan, dll) pun sebetulnya menjadi persoalan baru lagi yg juga mesti kita hati-hati. Salah-salah, justru akan dianggap sebagai penyokong gerakan separatis (versi pemerintah China) yg mendukung kemerdekaan Turkistan Timur. Bahkan, penggunaan kata Turkistan Timur dan lambangnya saja bisa jadi masalah baru (lagi) yg BERDAMPAK BESAR pada umat Islam etnis apa pun DI XINJIANG.

Sekali lagi, GHIRAH dan SIYASAH mesti selaras. OTOT dan OTAK mesti sejalan.

Itulah sebabnya, Sa’ad bin Abi Waqqash ra, shabat yg masuk dalam barisan pertama dalam ber-Islam, shahabat yg tidak pernah tertolak doanya, sahabat yg diutus Baginda Sayyidina Rasulullah Muhammad saw berdakwah ke China, DITITIPI PESAN oleh Sang Baginda:

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yg gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari.

Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yg berdiri, orang yg berdiri saat itu lebih baik daripada orang yg berjalan dan orang yg berjalan saat itu lebih baik daripada orang yg berlari.

Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yg paling baik (Habil).’” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Perhatikan matan hadits pada bagian ini: “Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yg berdiri, orang yg berdiri saat itu lebih baik daripada orang yg berjalan dan orang yg berjalan saat itu lebih baik daripada orang yg berlari…”

Maksud Baginda Rasulullah Muhammad saw berpesan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash sesaat sebelum dakwahnya ke daratan China adalah tentang MEWASPADAI KETERGESAAN. Berpikir dua tiga kali dengan seraya bermusyawarah KETIKA DUDUK SEBELUM BERDIRI, KETIKA BERDIRI SEBELUM BERJALAN, KETIKA BERJALAN SEBELUM BERLARI. Jangan sampai SESUDAH BERAKSI menyesal karena malah banyak kemudharatannya. Bukan bagi dianya, melainkan bagi objek dakwahnya, hingga masyarakat secara luas.

Itulah kemudian, penyebaran dakwah Islam di daratan China melalui Jalur Sutera-nya dilakukan secara BERTAHAP dan BERESTAFET bahkan hingga berganti TIGA KEPEMIMPINAN ISLAM: Baginda Rasulullah Muhammad saw, Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Sayyidina Umar bin Khaththab ra, dan Sayyina Utsman bin Affan ra. Bukan Sa’ad bin Abi Waqqash tak mau, bukan pula tak mampu. Tapi, karena Sa’ad bin Abi Waqqash tak ingin grasa-grusu.

Ya, pesan Baginda Rasulullah Muhammad saw ini bukan untuk Sa’ad bin Abi Waqqash seorang saja, melainkan kepada siapapun, khususnya yg ingin ‘MENAKLUKKAN CHINA’.

Wallahu a’lam bish shawab…

***
Saya sedang terus berkeliling Indonesia dan beberapa negara-negara Islam khususnya untuk membangun aliansi dalam menyikapi bersama persoalan umat Islam di Xinjiang khususnya etnis Uighur dengan semangat win-win solution bagi semuanya.

Karena, suka tidak suka yg kita hadapi adalah ‘raksasa dunia’ yg tangannya sudah menjalar bak gurita. Tapi, kita punya Sang Pencipta raksasa dunia itu. Yg dalam genggaman-Nya, raksasa dunia itu sedikitpun tak punya kuasa.

Semoga Allah ridha. Amin.

Jadual dan penjadualan dapat menghubungi staf AMI Foundation bagian penjadualan di 081335178788 atau hotline 08114912000.